Artikel Gereja

Uang dan Pernikahan

"Pertemuan menggoda dengan kekayaan membawa kelonggaran/kerapuhan pada jiwa kita dan konflik dalam hubungan kita."

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Tim 6:10)

Istri saya Rita adalah seorang penghemat dan saya seorang pemboros. Kami telah belajar untuk "merangkul dan merayakan" perbedaan kami, tetapi kami tidak memulai dengan saling menghargai motivasi moneter satu sama lain. Karena kebutuhannya akan rasa aman yang tinggi—Rita harus memiliki cukup uang untuk hidup ketika kami tidak dapat bekerja penuh waktu. Saya di sisi lain—memiliki keinginan yang kuat untuk menikmati hidup di sepanjang jalan sehingga saya tidak hanya pensiun, mati dan kehilangan menjalani kehidupan. Jadi, kami secara sistematis menabung, dengan murah hati memberi dan menikmati perjalanan merayakan ulang tahun pernikahan. Uang telah menjadi pelayan untuk mendukung kehendak Tuhan.

Paulus memberikan peringatan keras terhadap cinta kita pada uang menggantikan kasih kita kepada Tuhan, pasangan kita dan teman-teman kita. Uang adalah kekasih yang tidak setia yang membuat para pengikut Kristus menyimpang dari iman mereka. Seperti euforia kencan pertama—uang dapat menciptakan hasrat akan hal-hal yang bersaing dengan hasrat kita akan Juruselamat kita. Memang, cinta akan uang seperti menarik pin pada granat, menyaksikan pecahan peluru yang meledak—menyakiti kita alih-alih menolong kita. Pertemuan menggoda dengan kekayaan membawa kelongaran/kerpuhan pada jiwa kita. Obat untuk cengkeraman uang adalah kemurahan hati.

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah telah berfirman, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5).

Kepuasan hati adalah landasan untuk pernikahan yang berharga dan bermakna. Itu adalah dasar untuk iman yang tumbuh dalam Yesus dan dasar untuk kesetiaan dalam komitmen eksklusif pasangan satu sama lain. Jika seorang istri dan suami memasang gerbong kepuasan hati mereka pada kereta kepercayaan Kristus, mereka akan melakukan perjalanan dalam kehendak-Nya. Memberi, bukan mendapatkan uang, adalah kunci kepuasan hati. Sulit menemukan orang murah hati yang tidak bahagia. Tujuan penghematan itu penting, tetapi tujuan memberi jauh lebih utama. Rencanakan dan doakan bersama bagaimana menjadi pemberi yang agresif. Bukalah dana pemberian untuk yayasan pelayanan atau yayasan amal lainnya untuk mempercepat pemberian anda.

Lihatlah uang sebagai alat untuk mencapai tujuan—bukan tujuan itu sendiri. Uang adalah sarana untuk merawat dan memberdayakan keluarga kita—tidak memungkinkan ketergantungan dan menghambat motivasi kerja. Aset kita adalah sarana untuk memajukan Injil sekarang—bukan untuk menunda kemajuan Kerajaan Allah dengan hadiah besar pada suatu hari nanti. Uang adalah sarana untuk menghasilkan perubahan untuk kebutuhan yang jauh lebih besar daripada berfokus pada keinginan kita yang lebih kecil. Ya, saat kita mengelola berkat Tuhan dengan baik, Dia bisa memercayakan kita lebih banyak lagi. Pernikahan yang bahagia belajar bagaimana mengasihi dengan atau tanpa uang. Uang mereka mengikuti Kristus!

“Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan  membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13).

Doa:

Bapa Surgawi, ajarilah aku bagaimana menggunakan uang dengan hati yang puas dan kemurahan hati, melalui kasih Kristus dan dalam nama Yesus, amin.”

Oleh: Boyd Bailey – Terj.: Hardi Mega

 

Related Posts